Sejarah Singkat PMII - Ruang Pergerakan

Breaking

Terkini

Minggu, 13 Oktober 2019

Sejarah Singkat PMII


Cikal Bakal PMII

Ide dasar berdirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bermula dari adanya hasrat kuat para mahasiswa Nahdliyin untuk membentuk suatu wadah (organisasi) mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja).

Sebelum berdirinya PMII, sudah ada organisasi mahasiswa Nahdliyin, namun masih bersifat lokal. Organisasi itu diantaranya Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (IMANU) berdiri pada Desember 1955 di Jakarta. Di Surakarta dirikan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) pada tahun yang sama. Kemduian berdiri juga Persatuan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (PMNU) di Bandung. Selain organisasi tersebut, ada pula mahasiswa Nahdliyin yang tergabung pada Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang terwadahi pada departemen perguruan tinggi.

Gagasan pendirian organisasi mahasiswa NU muncul kembali pada Muktamar II IPNU di Pekalongan (1-5 Januari 1957). Gagasan ini pun kembali ditentang karena dianggap akan menjadi pesaing bagi IPNU. Sebagai langkah kompromis atas pertentangan tersebut, maka pada muktamar III IPNU di Cirebon (27-31 Desember 1958) dibentuk Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang diketuai oleh Isma’il Makki (Yogyakarta). Namun dalam perjalanannya antara IPNU dan Departemen PT-nya selalu terjadi ketimpangan dalam pelaksanaan program organisasi. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cara pandang yang diterapkan oleh mahasiswa dan dengan pelajar yang menjadi pimpinan pusat IPNU. Disamping itu para mahasiswa pun tidak bebas dalam melakukan sikap politik karena selalu diawasi oleh PP IPNU.

Adanya berbegai macam organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama ternyata tidak mampu membendung hasrat untuk berdirinya organisasi mahasiswa nahdliyin secara nasional. Hal itu terbukti pada Konferensi Besar IPNU pada tanggal 14-17 Maret 1960 di Kaliurang Yogyakarta disepakati untuk berdirinya organisasi kemahasiswaan Nahdliyin.
Kemudian dibentuklah panitia sponsor berdirinya organisasi mahasiswa Nahdliyin yang berjumlah 13 orang mahasiswa NU dari berbagai daerah. Ketiga belas panitia tersebut kemudian mengadakan pertemuan yang disebut dengan Musyawarah Mahasiswa NU. 

Pertemuan tersebut diselenggarakan pada tanggal 14-16 April 1960 di Gedung Madrasah Muallimin Nahdlatul Ulama (Gedung Yayasan Khadijah) Wonokromo Surabaya. Selanjutnya hasil musyawarah tersebut diumumkan di Balai Pemuda surabaya pada tanggal 21 Syawal 1379 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 17 April 1960. Maka mulai saat itulah PMII berdiri dan tanggal 17 April 1960 dinyatakan sebagai hari jadi PMII yang diperingati dengan istilah Hari lahir (Harlah).
Adapun ketiga belas mahasiswa NU sponsor atau panitia yang selanjutnya disepakati sebagai pendiri PMII yaitu:
1. Sahabat Chalid Mawardi (Jakarta)
2. Sahabat M. Said Budairy (Jakarta)
3. Sahabat M. Sobich Ubaid (Jakarta)
4. Sahabat Makmun Syukri (Bandung)
5. Sahabat Hilman Badrudinsyah (Bandung)
6. Sahabat H. Ismail Makky (Yogyakarta)
7. Sahabat Moensif Nachrowi ( Yogyakarta)
8. Sahabat Nuril Huda Suaiby (Surakarta)
9. Sahabat Laily Mansur (Surakarta)
10. Sahabat Abdul Wahab Jaelani (Semarang)
11. Sahabat Hisbullah Huda (Surabaya)
12. Sahabat M. Chalid Narbuko (Malang)
13. Sahabat Ahmad Hussein (Makasar)

Selanjutnya setelah menetapkan ke-13 panitia diatas, keputusan-keputusan lain juga dibuat demi terbentuknya organisasi yang sudah lama dinanti. Keputusan lainnya akan ditetapkan oleh tiga mahasiswa yang sudah ditunjuk yaitu Hizbulloh Huda, M. Said Budairy, dan Makmun Syukri untuk sowan ke Ketua Umum PBNU kala itu, KH. Idham Kholid

Kepemimpinan PMII

Sejak beridiri, PMII telah dipimpin oleh Ketua Umum sebagai berikut:
1. Sahabat Mahbub Djunaidi (1960-1967)
2. Sahabat M. Zamroni (1967-1973)
3. Sahabat Abduh Paddare (1973-1977)
4. Sahabat Ahmad Bagja (1977-1981)
5. Sahabat Muhyiddin Arusbusman (1981-1985)
6. Sahabat Suryadharma Ali (1985-1988)
7. Sahabat M. Iqbal Assegaf (1988-1991)
8. Sahabat Ali Masykur Musa (1991-1994)
9. Sahabat A. Muhaimin Iskandar (1994-1997)
10. Sahabat Syaiful Bahri Anshori (1997-2000)
11. Sahabat Nusron Wahid (2000-2003)
12. Sahabat A. Malik Haramain (2003-2005)
13. Sahabat Hery Hariyanto Azumi (2005-2008)
14. Sahabat M. Rodli Kaelani (2008-20011)
15. Sahabat Addin Jauharudin (2011-2014)
16. Sahabat Aminuddin Ma’ruf (2014-2017)
17. Sahabat Agus Mulyono Herlambang (2017-Sekarang)


MASA INDEPENDENSI

Sejarah kebesaran nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tak bisa lepas dari malang. Tepatnya dari gedung murnajati di Lawang, Kabupaten Malang. Seabab, pada 14 Juli 1972, gedung tersebut menjadi saksi bisu dilangsungkannya Deklarasi Murnajati yang menjadi tonggak independensi organisasi kemahasiswaan yang cukup besar di negeri ini. Deklarasi itu menandai secara resmi “perceraian” struktural antara PMII dengan Nahdlatul Ulama (NU).
Sebelum ada Deklarasi Murnajati, PMII yang lahir pada 17 April 1960, masih menjadi organisasi di bawah NU atau bersifat Banom NU.
Masa independensi (1972-1990). Keputusan untuk lebih independen dan tidak terikat kepada siapapun dan hanya komitmen dengan perjuangan nasional yang berlandaskan Pancasila, ini dimunculkan pada Mubes ke III yang diselenggarakan di Munarjati, Malang Jawa Timur pada tanggal 14 Juli 1972, dan dikukuhkan pada kongres V tahun 1973 di Ciloto Jawa Barat dalam Manifes Independen. 

 Salah satu alasan yang mendasar PMII mengambil keputusan dan langkah tegas untuk 
independen dari NU adalah perkembangan politik yang tidak kondusif, dimana ketika Golkar 
meraih kemenangan, sikap pemerintah terhadap masyarakat dan ormas-ormas represif. 11
Termasuk berupaya mengurangi peranan partai-partai politik, salah satunya dengan memfusikan 
partai NU dalam PPP. Sementara represi pemerintah juga dimunculkan dengan komando “back to 
campus”.

Hal inilah yang menyebabkan gerakan PMII mengalami kemandulan. Terlebih tatkala 
semua energy terkuras hanya untuk mengurusi masalah partai, sementara kepedulian terhadap 
kiprah sosio-kulturalnya nyaris terabaikan. 

Karena pilihan independensi tidak dapat lagi ditolak atas dasar, pertama, dimaksudkan 
dalam rangka mendinamisir dan mengembangkan potensi cultural yang bersumber pada 
penghayatan nilai ajaran Islam. Kedua, merupakan pengembangan sikap kreatif, keterbukaan 
dalam sikap dan pembinaan rasa tanggung jawab sebagai dinamika. Pergerakan dilakukan dengan bermodal dan bersifat kemahasiswaan, serta didorong oleh moralitas untuk memperjuangkan 

Pergerakan dan cita-cita perjuangan nasional yang berlandaskan pancasila. Ketiga, dengan 
independensinya tersedia kemungkinan alternative yang lebih lengkap bagi cita-cita perjuangan 
organisasi yang berdasarkan Islam ahlus sunnah wal jama’ah. Independensi PMII ini disertai dengan gerakannya untuk mengkoordinasikan gerakan dan aktifitas organisasi mahasiswa dalam kelompok Cipayung. (PMII, PMKRI, HMI, GMNI, GMKI). Hal ini merupakan langkah arif untuk menjadi kekuatan politik tersendiri yang bisa mempengaruhi pengambilan keputusan di tingkat atas. Biarpun pada saat itu telah ada organisasi kepemudaan KNPI, namun keberadaannya lebih menampakkan alat politik korporasi pemerintah ORBA. 



MASA INTERDEPENDENSI

interdependensi tahun 1990 sampai sekarang. PMII secara struktural memang telah lepas dari NU namun secara cultural ternyata tidak dapat lepas sama sekali. Melalui kesamaan pemahaman Islam Ahlus sunnah wal Jama’ah, yang tercermin dalam kesamaan persepsi keagamaan dan perjuangan, visi social dan kemasyarakatan, serta ikatan historis, maka secara kultur PMII dan NU tidak dapat dilepaskan sama sekali. Belum tuntasnya independensi PMII di satu pihak dantela’ah khittahnya NU sebagai jam’iyyah keagamaan di lain pihak mengharuskan melakukan penegasan terhadap pola hubungan dengan NU. Maka melalui deklarasi dalam kongres X PMII pada tanggal 27 Oktober 1991 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, PMII menegaskanhubungannya dengan NU dan saling ketergantungan (Interdependenasi).

Implementasi interdependensi ini diwujudkan dalam beberapa bidang. Pertama, 
pemikiran. Kerjasama di bidang ini dirancang untuk pengembangan pemikiran keislaman dan 
kemasyarakatan. Kedua, sumber daya manusia. Kerjasama dibidang ini ditekankan pada 
pemanfaatan secara maksimal manusia-manusia PMII dan NU. Ketiga, pelatihan. Kerjasama di 
bidang ini dirancang untuk pengembangan sumber daya manusia baik PMII dan NU. Keempat, 
rintisan program. Kerjasama di bidang ini berbentuk pengelolaan suatu program secara bersama 
seperti program pengembangan ekonomi, program aksi social dan lain-lain.
Biarpun demikian, status interdependensi tidak jauh berpengaruh dalam gerakan PMII 
yang senantiasa berdiri sebagai gerakan moral. Realitas yang senantiasa berubah telah 
meniscayakan penyikapan-penyikapan kritis agar tetap menjadi bagian dari gerakan tersebut. 
Gemuruh gerakan mahasiswa pada tahun 1998 dianggap sebagai moment kebangkitan gerakan 
mahasiswa yang telah lama tidur. Buruknya pemerintahan yang dipimpin Soeharto ditambah 
dengan krisis multidimensi yang melanda bangsa menambah semangat gerakan. Hingga akhirnya 
gerakan 1998 menjadi salah satu momentum bersejarah karena telah mengantarkan bangsa. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

close
Banner iklan disini