berfikir manusia memang terbatas, namun kita sendiri tidak tau sampai mana batas itu, masalahnya sekarang kita mau menggunakan keterbatasan itu secara maksimal atau menggunakannya setengah setengah.
Tingkat tertinggi untuk mengerti yang mutlak (Tuhan) itu adalah puncak dari akal bukan bagain tengah atau bawahnya, karena itu tertinggi dan kejarlah terus tingkatan akal itu, dengan demikian kita akan makin dekat dengan kemutlakan yang maha mutlak.
Lantas apakah isi aqidah itu? Nah inilah yang perlu kita didiskusikan, ketika ada orang yang berbuat salah pasti langsung dikatakan oknumnya yang salah, memang benar, tapi apakah selalu yang berbuat salah itu oknum nya? Apakah tidak ada kelemahan dari sisi aqidah? apakah aqidah melarang adanya suatu pertanyaan yang tersirat didalam akal yang meragukan sebagian isi aqidah itu? Disinilah kita berbeda pendapat.
Baca juga: http://www.pmiirdikuinril.com/2020/03/pmii-rdik-maksimalkan-kaderisasi.html
Mungkin secara tidak sadar orang yang menggunakan aqidah berkata : "Aqidah anti terhadap anti aqidah". Menurut saya aqidah itu dekokratis, yaitu aqidah mencintai serta menghargai "anti aqidah" Walaupun aqidah tidak menyetujui isinya , dengan demikian baru aqidah yang sebenarnya bukan sekedar "pseudo aqidah' atau sloganistik belaka, biarlah semua ulama ulama dan calon ulama berbeda pendapat dengan saya, saya ingin bebicara langsung dengan tuhan dan berkenalan langsung dengan Muhammad , saya yakin bahwa allah menghargai pertanyaan pertanyaan yang meragukan isi ajaranya.
Tuhan memberi hak hidup, tuhan juga memberi kesempatan untuk musuh musuhnya berfikir , untuk kemudian menjadi sahabatnya. Sesungguhnya bagaimana seseorang dapat percaya akan keberadaan tuhan jika tidak boleh mempertanyakan kebenarannya "kepercayaan bahwa allah sebenarnya tidak ada. Bagaimana kita mempercayai semua ajaran islam itu benar jika tidak memikirkan kemungkinan kelemahannya untuk selanjutnya difikiran benarnya.
Apalagi kalau ada hasrat untuk memikirkan kemudian dinyatakan terlarang dan salah.
Semisal si A dinyatakan salah, dan setiap pertanyaan kemungkinan tidak salahnya si A dianggap salah. Jadi bukan hanya si A yang dianggap salah, tapi juga setiap orang yang bertanya tentang si A. Alangkah kejamnya!
Saya percaya allah tidak suka orang yang kejam ini, walaupun allah menyalahkan si A tapi Allah tersenyum pada setiap orang yang bertanya tentang si A. Saya sependapat bahwasanya akal tidak dapat di pisahkan dalam kehidupan. Meninggalkan akal bisa. Tapi hal inipun menggunakan akal dalam meninggalkan objektivitas menuju subyektivitas untuk sampai kebenaran yang mutlak.
Dikutip dari buku pergolakan pemikiran islam, Ahmad wahib
(Andri)
Tingkat tertinggi untuk mengerti yang mutlak (Tuhan) itu adalah puncak dari akal bukan bagain tengah atau bawahnya, karena itu tertinggi dan kejarlah terus tingkatan akal itu, dengan demikian kita akan makin dekat dengan kemutlakan yang maha mutlak.
Lantas apakah isi aqidah itu? Nah inilah yang perlu kita didiskusikan, ketika ada orang yang berbuat salah pasti langsung dikatakan oknumnya yang salah, memang benar, tapi apakah selalu yang berbuat salah itu oknum nya? Apakah tidak ada kelemahan dari sisi aqidah? apakah aqidah melarang adanya suatu pertanyaan yang tersirat didalam akal yang meragukan sebagian isi aqidah itu? Disinilah kita berbeda pendapat.
Baca juga: http://www.pmiirdikuinril.com/2020/03/pmii-rdik-maksimalkan-kaderisasi.html
Mungkin secara tidak sadar orang yang menggunakan aqidah berkata : "Aqidah anti terhadap anti aqidah". Menurut saya aqidah itu dekokratis, yaitu aqidah mencintai serta menghargai "anti aqidah" Walaupun aqidah tidak menyetujui isinya , dengan demikian baru aqidah yang sebenarnya bukan sekedar "pseudo aqidah' atau sloganistik belaka, biarlah semua ulama ulama dan calon ulama berbeda pendapat dengan saya, saya ingin bebicara langsung dengan tuhan dan berkenalan langsung dengan Muhammad , saya yakin bahwa allah menghargai pertanyaan pertanyaan yang meragukan isi ajaranya.
Tuhan memberi hak hidup, tuhan juga memberi kesempatan untuk musuh musuhnya berfikir , untuk kemudian menjadi sahabatnya. Sesungguhnya bagaimana seseorang dapat percaya akan keberadaan tuhan jika tidak boleh mempertanyakan kebenarannya "kepercayaan bahwa allah sebenarnya tidak ada. Bagaimana kita mempercayai semua ajaran islam itu benar jika tidak memikirkan kemungkinan kelemahannya untuk selanjutnya difikiran benarnya.
Apalagi kalau ada hasrat untuk memikirkan kemudian dinyatakan terlarang dan salah.
Semisal si A dinyatakan salah, dan setiap pertanyaan kemungkinan tidak salahnya si A dianggap salah. Jadi bukan hanya si A yang dianggap salah, tapi juga setiap orang yang bertanya tentang si A. Alangkah kejamnya!
Saya percaya allah tidak suka orang yang kejam ini, walaupun allah menyalahkan si A tapi Allah tersenyum pada setiap orang yang bertanya tentang si A. Saya sependapat bahwasanya akal tidak dapat di pisahkan dalam kehidupan. Meninggalkan akal bisa. Tapi hal inipun menggunakan akal dalam meninggalkan objektivitas menuju subyektivitas untuk sampai kebenaran yang mutlak.
Dikutip dari buku pergolakan pemikiran islam, Ahmad wahib
(Andri)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar