Bandar Lampung: Para Pejuang tanah air dikalangan mahasiswa atau yang biasa kita sebut seorang Aktivis, berani dalam segala hal, mereka menaruhkan nyawa, pribadinya, meninggalkan keluarga demi menyuarakan kebenaran dan membela rakyat, karena bagi aktivis suara rakyat adalah suara tuhan yang mesti diperjuangkan agar didengar oleh birokrat.
Aktivis 1960-1998 adalah mahasiswa pengabdi rakyat, tanpa mengharapkan imbalan, yang mereka harapkan hanyalah keadilan bagi rakyat. Membela rakyat sudah menjadi kewajiban bagi para aktivis, setiap kaum atau golongan yang tidak berpihak pada rakyat, maka aktivislah sebagai garda terdepan dalam melakukan pemberontakan, aksi dan demonstrasi, itu semua demi tersampai nya aspirasi.
Bayangkan ketika mereka rela berkorban seluruh jiwa nya untuk menyuarakan kebenaran tanpa rasa takut dengan kekuasaan anti demokrasi.
Kebenaran dan keadilan harus selalu ditegakkan dengan segenap resiko bahkan ancaman. Itulah mengapa "aktivis" diakui oleh kalangan masyarakat dan ditakuti oleh elit politik.
Namun, berbanding terbalik dengan Mahasiswa pada era sekarang hanya tinggal sebuah anggan cerita atau kebanggaan belaka atas gelar yang selalu mereka agungkan dan nilai IPK sebagai tujuan, "penentu masa depan" ungkap mahasiswa sekarang. Berbicara tentang sejarah dan hakikat nya mahasiswa, tentu sangat miris jika melihat realita sekarang yang acuh dan tunduk terhadap penguasa, mereka menilai "bapak penguasa yang berhak dan yang paling benar jika bapak memberi saya nilai A" mungkin begitu pikirnya.
gelar sebagai mahasiswa hanyalah rangkain huruf tanpa makna, Spd, SH, Sos, dll. Seakan-akan menyembah nilai, mereka menenteng ijazah S1 kesana-kesini dengan hasil yang jauh dari pasti. Adapun seorang aktivis, namun tunduk terhadap jabatan, uang, wanita sehingga masyarakat lagi percayaan terhadap mahasiswa sebagai pahlawan rakyat. Karna yang dulu mahasiswa sebagai penyambung lidah masyarakat malah menjadi penyambung lidah penguasa.
Bagaimana tidak, sebutan aktivis yang "berani mati tapi takut lapar" itu sangat pas dengan realita saat ini, alih-alih menyuarakan suara rakyat, tapi dibelakang menjilat, main dibelakang dan curang bersama birokrat, teriakan kebenaran akhirnya bisa dibeli oleh birokrat yang punya kemauan dan hasrat, sehingga korban nya adalah rakyatt...
Coba kita lihat sejarah dimana nama mahasiswa melambung tinggi lewat pengabdiannya kepada rakyat dengan menumbangkan rezim orde lama, itu merupakan salah satu bukti sejarah yang konkrit untuk menunjukkan jiwa sejati seorang mahasiswa aktivis.
Namun jika kita tengok di era saat ini, ketika rakyat menjerit dan berharap sang pahlawan datang membelanya, namun pahlawan yang mereka harapkan tersebut duduk santai dikosan, nongkrong hura-hura bersama teman-teman, seolah-olah tidak punya beban dan tanggung jawab atas gelar mahasiswa yang mereka sandang. Apakah tindakan tersebut mencerminkan keperibadian seorang mahasiswa yang katanya mahasiswa menjunjung tinggi Tridarma Perguruan tinggi? Saya rasa hanya beberapa mahasiswa saja yang tau dan mengerti apa itu Tridarma Perguruan Tinggi, belum lagi kita berbicara tentang implentasinya.
Saya rasa banyak hal yang harus kita pelajari dari aktivis-aktivis pada tahun 60 hingga 98 yang peduli dengan rakyat kecil, masyarakat yang tertindas hingga buruh. Dan mereka benar-benar melakukan dengan hati ikhlas tanpa pamrih dalam hadist pun dijelaskan "Khairunnas ampaulinnas artinya sebaik-baiknya manusia. Manusia yang bermanfaat bagi orang lain".
Jadi saya menulis ini karna kegelisahan diri saya banyak aktivis-aktivis hanya berani berbicara tetapi tidak ada implementasinya atau omong kosong semata, saya harap mahasiswa balik kembali kejalur yang sebenarnya yaitu menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang.
Sedikit mengutip dari Soe Hoek Gie "Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. "Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan".
Penulis: Dapid
x





Tidak ada komentar:
Posting Komentar